Monday, August 18, 2014

WAFATNYA RASULULLAH SAW, BANJIR AIR MATA PARA SAHABAT, BANJIR AIR MATA KITA


Diriwayatkan bahwa surah Al-Maidah ayat 3 diturunkan pada sesudah waktu Ashar yaitu pada hari Jum’at di Padang Arafah pada musim haji penghabisan (Wada’). Pada masa itu Rasulullah s.a.w. berada di Arafah di atas unta. Ketika ayat ini turun Rasulullah s.a.w. tidak begitu jelas penerimaannya untuk mengingat isi dan makna yang terkandung dalam ayat tersebut. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersandar pada unta beliau, dan unta beliau pun duduk perlahan-lahan.

Setelah itu turun malaikat Jibril a.s. dan berkata:
“Wahai Muhammad, sesungguhnya pada hari ini telah disempurnakan urusan agamamu, maka terputuslah apa yang diperintahkan oleh Allah s.w.t. dan demikian juga apa yang terlarang oleh-Nya. Karena itu, kumpulkan para sahabatmu dan beritahu mereka bahwa hari ini adalah hari terakhir aku bertemu denganmu.”

Setelah Malaikat Jibril a.s. pergi maka Rasulullah s.a.w. pun berangkat ke Mekah dan terus pergi ke Madinah. Setelah Rasulullah s.a.w. mengumpulkan para sahabat, pun menceritakan apa yang telah diberitahu malaikat Jibril a.s. Ketika para sahabat mendengarnya berita itu, mereka pun gembira sambil berkata: “Agama kita telah sempurna! Agama kila telah sempurna!”

Ketika Abu Bakar r.a. mendengar kabar Rasulullah s.a.w. itu, ia tidak dapat menahan kesedihannya. Ia pun kembali ke rumah lalu mengunci pintu dan menangis sekuat-kuatnya. Abu Bakar r.a. menangis dari pagi hingga malam. Kisah tentang Abu Bakar r.a. menangis ini sampai kepada para sahabat lain.

Maka berkumpullah mereka di depan rumah Abu Bakar r.a. dan mereka berkata: “Wahai Abu Bakar, apakah yang telah membuat engkau menangis sehingga menyedihkan sekali keadaanmu? Seharusnya engkau gembira karena agama kita telah sempurna.” Mendengar itu, Abu Bakar r.a. pun berkata, “Wahai para sahabatku, kamu semua tidak tahu tentang musibah yang akan menimpa kamu. Tidakkah kamu tahu bahwa apabila suatu perkara itu telah sempurna maka akan kelihatanlah kekurangannya. Turunnya ayat tersebut menunjukkan perpisahan kita dengan Rasulullah s.a.w.. Hasan dan Husein menjadi yatim dan para istri nabi menjadi janda.”

Setelah mereka mendengar penjelasan Abu Bakar r.a.. sadarlah mereka lalu mereka pun menangis sejadi-jadinya. Kabar tangisan mereka kemudian sampai ke para sahabat yang lain. Mereka pun memberitahu Rasulullah s.a.w. Berkata salah seorang dari sahabat,“Ya Rasulullah s.a.w., kami baru kembali dari rumah Abu Bakar r.a. dan kami dapati banyak orang menangis dengan suara keras sekali di depan rumah beliau.” Berubahlah wajah Rasulullah s.a.w. dan dengan bergegas beliau menuju ke rumah Abu Bakar r.a. Setelah sampai, Rasulullah s.a.w. melihat kepada semua yang menangis dan bertanya,“Wahai para sahabatku, mengapa kamu semua menangis?”

Kemudian Ali r.a. berkata, “Ya Rasulullah, Abu Bakar mengatakan bahwa turunnya ayat ini membawa tanda bahwa waktu wafatmu telah dekat. Adakah ini benar ya Rasulullah?” Lalu Rasulullah s.a.w. berkata:“Semua yang dikatakan Abu Bakar adalah benar, dan sesungguhnya waktu untuk aku meninggalkan kamu semua telah dekat.”

Setelah Abu Bakar mendengar pengakuan Rasulullah, maka ia pun menangis sekuat tenaganya sehingga ia jatuh pingsan. Saat semuanya sedang ditimpa duka, seorang sahabat ‘Ukasyah r.a. berkata kepada Rasulullah: “Ya Rasulullah, engkau pernah memukul tulang rusukku hingga sakit. Saya ingin tahu apakah engkau sengaja memukulku atau hendak memukul unta Baginda.” Rasulullah menjawab: “Wahai ‘Ukasyah, aku sengaja memukul kamu.” Kemudian Rasulullah berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, kamu pergi ke rumah Fathimah dan ambilkan tongkatku kesini.” Bilal keluar dari masjid dan menuju rumah Fathimah sambil meletakkan tangannya di atas kepala dengan berkata, “Rasulullah telah menyediakan dirinya untuk dibalas (diqishash).”

Setelah Bilal sampai di rumah Fathimah, memberi salam dan mengetuk pintu. “Siapakah di pintu?” “Aku Bilal, saya telah diperintahkan Rasulullah untuk mengambil tongkat beliau.”
“Wahai Bilal, untuk apa ayahku minta tongkatnya.”
“Wahai Fathimah, Rasulullah s.a.w. telah menyediakan dirinya untuk diqishash.”
“Wahai Bilal, siapakah manusia yang sampai hatinya untuk menqishash Rasulullah s.a.w.?”

Bilal tidak menjawab kemudian membawa tongkat itu kepada Rasulullah. Setelah Rasulullah menerima tongkat tersebut dari Bilal, maka beliau pun menyerahkan kepada ‘Ukasyah. Melihat itu, Abu Bakar ra. dan Umar ra. tampil ke depan sambil berkata:
“Wahai ‘Ukasyah, janganlah kamu qishash Rasulullah s.a.w. qishashlah kami berdua.” Rasulullah s.a.w. berkata: “Wahai Abu Bakar, Umar duduklah, sesungguhnya Allah s.w.t. telah menetapkan tempatnya untuk kamu berdua.”

Kemudian Ali r.a. bangun, “Wahai ‘Ukasyah! Aku adalah orang yang senantiasa berada di samping Rasulullah s.a.w., pukullah aku dan janganlah kamu menqishash Rasulullah.” Lalu Rasulullah berkata, “Wahai Ali duduklah kamu, sesungguhnya Allah telah menetapkan tempatmu dan mengetahui isi hatimu.” Setelah itu, Hasan dan Husein bangun dengan berkata:“Wahai ‘Ukasyah, kami ini cucu Rasulullah, kalau kamu menqishash kami sama dengan kamu menqishash Rasulullah.” Mendengar kata-kata cucunya Rasulullah s.a.w. pun berkata, “Wahai buah hatiku duduklah kamu berdua.”

“Wahai ‘Ukasyah pukullah aku, lakukanlah balasanmu,” kata Rasulullah.
‘Ukasyah berkata: “Ya Rasulullah s.a.w., engkau memukulku waktu aku tidak memakai baju.” Maka Rasulullah pun membuka baju. Setelah Rasulullah membuka baju maka menangislah semua yang hadir. Suasana tegang dan haru. Begitu ‘Ukasyah melihat tubuh Rasulullah yang putih bersih, ia segera melempar tongkatnya dan langsung memeluk dan mencium badan Rasulullah dan berkata: “Aku tebus engkau dengan jiwaku ya Rasulullah. Siapa yang sanggup memukulmu.

Aku melakukan ini karena ingin menyentuhkan badanku dengan badanmu yang dimuliakan Allah. Dan aku ingin Allah menjagaku dari neraka dengan kehormatanmu.” Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata, “Dengarlah kamu sekalian, sekiranya kamu ingin melihat seorang ahli surga, inilah orangnya.” Kemudian semua sahabat bersalam-salaman atas kegembiraan mereka terhadap peristiwa yang sangat menegangkan itu. Setelah itu para sahabat pun berkata, “Wahai ‘Ukasyah, inilah keuntungan yang paling besar bagimu, engkau telah memperoleh darajat yang tinggi dan bertemankan Rasulullah di surga.”

Ketika ajal Rasulullah s.a.w. semakin dekat, beliau pun memanggil para sahabat ke rumah Aisyah r.a. dan berkata: “Selamat datang, semoga Allah mengasihimu semua. Aku berwasiat kepadamu semua agar kamu semua bertaqwa kepada Allah dan mentaati segala perintah-Nya. Sesungguhnya hari perpisahan antara aku denganmu semua hampir dekat, dan dekat pula saat kembalinya seorang hamba kepada Allah dan menempatkannya di surga. Kalau telah sampai ajalku maka hendaklah Ali yang memandikanku, Fadhl bin Abbas hendaklah menuangkan air dan Usamah bin Zaid hendaklah menolong keduanya.

Setelah itu kamu kafanilah aku dengan pakaianku sendiri atau kafanilah aku dengan kain Yaman yang putih. Apabila kamu memandikan aku, letakkan aku di atas balai tempat tidurku dalam rumahku ini. Setelah itu, kamu semua keluarlah sebentar meninggalkan aku. Pertama yang akan menshalatkan aku adalah Allah, kemudian Jibril, kemudian diikuti Israfil, Mikail, dan yang akhir adalah lzrail berserta dengan semua pembantunya. Setelah itu baru kamu semua masuk bergantian berkelompok menshalatkanku.”

Setelah para sahabat mendengar ucapan yang sungguh menyayat hati itu, meledaklah tangis mereka. Mereka menangis sejadi-jadinya dan berkata, “Ya Rasulullah. engkau adalah seorang Rasul yang diutus kepada kami, engkau selama ini memberi kekuatan dalam penemuan kami dan sebagai penguasa yang mengurus perkara kami. Apabila engkau sudah tiada nanti, kepada siapakah akan kami bertanya setiap persoalan yang timbul nanti?”

Kemudian Rasulullah berkata,“Dengarlah para sahabatku, aku tinggalkan kepada kamu semua jalan yang benar dan jalan yang terang, dan telah aku tinggalkan kepada kamu dua penasihat: yang satu nasehat yang pandai bicara dan yang satu lagi nasehat yang diam. Yang pandai bicara adalah Al-Quran dan yang diam itu ialah maut. Apabila ada sesuatu persoalan yang rumit diantara kamu, maka hendaklah kamu semua kembali kepada Al-Quran dan Sunnah-ku dan sekiranya hati kamu bersikeras maka lembutkan dengan mengambil nasehat dari kematian.”

Setelah Rasulullah s.a.w. berkata demikian, maka Rasulullah mulai merasakan sakit. Dalam bulan safar Rasulullah s.a.w. sakit selama 18 hari dan sering dikunjungi oleh para sahabat. Rasulullah diutus pada hari Senin dan wafat pada hari Senin. Pada hari Senin pula penyakit Rasulullah bertambah berat. Setelah Bilal menyelesaikan adzan subuh, Bilal pun pergi ke rumah Rasulullah.

Bilal pun memberi salam,“Assalaamualaika ya Rasulallah.” Lalu dijawab oleh Fathimah ra.,“Rasulullah s.a.w. masih sibuk dengan urusan beliau.” Setelah Bilal mendengar penjelasan dari Fathimah, ia pun kembali ke masjid tanpa memahami kata-kata Fathimah itu. Ketika waktu subuh hampir habis, Bilal pergi sekali lagi ke rumah Rasulullah dan memberi salam lagi, kali ini salam Bilal didengar oleh Rasulullah: “Masuklah wahai Bilal, sesungguhnya sakitku ini semakin berat, suruhlah Abu Bakar mengimamkan shalat subuh berjamaah dengan mereka yang hadir.”Setelah mendengar pesan Rasulullah, Bilal pun berjalan menuju ke masjid sambil meletakkan tangan di atas kepala dengan berkata:“Waah … ini musibah besar.”

Di masjid, Bilal memberitahu Abu Bakar tentang apa yang telah Rasulullah katakan kepadanya. Abu Bakar tidak dapat menahan dirinya. Ketika melihat mimbar kosong, dengan suara keras ia menangis hingga jatuh pingsan. Melihat peristiwa ini, riuh rendah tangisan sahabat terdengar di dalam masjid, sehingga Rasulullah bertanya kepada Fathimah ra.; “Wahai Fathimah apakah yang terjadi?” “Kekisruhan kaum muslimin disebabkan engkau tidak pergi ke masjid.”

Kemudian Rasulullah memanggil Ali dan Fadhl bin Abas lalu Rasulullah bersandar kepada kedua mereka dan terus pergi ke masjid. Setelah sampai di masjid, Rasulullah s.a.w. pun bershalat subuh bersama dengan para sahabat.

Setelah selesai, Rasulullah s.a.w. berkata, “Wahai kaum muslimin, kamu semua senantiasa dalam pertolongan dan pemeliharaan Allah s.w.t., oleh karena itu hendaklah kamu semua bertaqwa kepada Allah dan mengerjakan segala perintah-Nya. Sesungguhnya aku akan meninggalkan dunia ini dan kamu semua, dan hari ini adalah hari pertama aku di akhirat dan hari terakhir aku di dunia.” Setelah berkata demikian, Rasulullah pun pulang.

Di langit, Allah s.w.t. mewahyukan kepada malaikat lzrail a.s., “Wahai lzrail, pergilah kamu kepada kekasih-Ku dengan sebaik-baik rupa, dan apabila kamu hendak mencabut ruhnya hendaklah kamu melakukan dengan cara yang paling lembut. Minta izinlah terlebih dahulu, kalau ia izinkan kamu masuk, maka masuklah dan kalau ia tidak mengizinkan kamu masuk maka hendaklah kamu kembali kepada-Ku.”

Malaikal lzrail pun turun mendatangi Nabi dengan menyerupai orang Arab Badwi. “Assalaamu ‘alaikum yaa ahla baitin nubuwwati wa ma danirrisaalati a-adkhulu?” (Mudah-mudahan keselamatan tetap untuk kamu sekalian, wahai penghuni rumah nabi dan pemberi risalah, bolehkan saya masuk?) Fathimah mendengar orang memberi salam maka ia-pun berkata; “Wahai hamba Allah, Rasulullah s.a.w. sedang sibuk sebab sakitnya semakin berat.”

Kemudian malaikat lzrail memberi salam lagi, dan kali ini didengar oleh Rasulullah s.a.w. Rasulullah bertanya kepada Fathimah: “Wahai Fathimah, siapakah di depan pintu itu?”
“Ya Rasulullah, ada seorang Arab Badwi memanggilmu, dan aku telah katakan kepadanya Ayahanda sedang sibuk sebab sakit, sebaliknya dia memandangku dengan tajam sehingga badanku terasa menggigil.”Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata: “Wahai Fathimah, tahukah kamu siapakah orang itu?” Fathimah menjawab, “Tidak ayah.” “Dialah lzrail, malaikat yang akan memutuskan segala macam nafsu syahwat yang memisahkan perkumpulan-perkumpulan dan yang memusnahkan semua rumah serta meramaikan kubur.” Fathimah tidak dapat menahan air matanya. Perpisahan dengan ayahandanya akan terjadi, dia menangis sejadi-jadinya.

“Janganlah menangis wahai Fathimah, engkaulah orang yang pertama dalam keluargaku akan bertemu denganku.” Kemudian Rasulullah pun mengizinkan lzrail masuk. lzrail dengan tenang mengucap, “Assalamu ‘alaikum ya Rasulallah.” Lalu Rasulullah menjawab: “Wa ‘alaikassalam … Wahai lzrail engkau datang menziarahiku atau untuk mencabut ruhku?” lzrail menjawab: “Kedatanganku adalah untuk menziarahimu dan untuk mencabut ruhmu, itupun jika engkau izinkan, kalau tidak engkau izinkan, aku akan kembali.” Berkata Rasulullah s.a.w., “Wahai lzrail, dimanakah engkau tinggalkan Jibril?” Berkata lzrail: “Aku tinggalkan Jibril di langit dunia, para malaikat sedang memuliakan dia.” Tidak beberapa lama kemudian Jibril pun turun dan duduk di dekat kepala Rasulullah s.a.w.

Ketika Rasulullah melihat kedatangan Jibril, beliau berkata: “Wahai Jibril, tahukah engkau bahwa ajalku sudah dekat” Berkata Jibril: “Ya aku tahu.” Rasulullah bertanya lagi, “Wahai Jibril, beritahukanlah padaku kemuliaan yang menggembirakan aku disisi Allah.” Berkata Jibril, “Sesungguhnya semua pintu langit telah dibuka, para malaikat berbaris rapi menanti ruhmu di langit. Kesemua pintu-pintu surga telah dibuka, dan kesemua bidadari sudah berhias menanti kehadiran ruhmu.”

Berkata Rasulullah: “Alhamdulillah, sekarang engkau katakan pula tentang umatku di hari kiamat nanti.” Berkata Jibril, “Allah s.w.t. telah berfirman, ‘Sesungguhnya aku telah melarang semua para nabi masuk ke dalam surga sebelum engkau masuk terlebih dahulu, dan aku juga melarang semua umat memasuki surga sebelum umatmu memasuki surga.”

Berkatalah Rasulullah: “Sekarang aku telah puas dan telah hilang keresahan akan umatku. Wahai lzrail … mendekatlah kepadaku …. dan lakukanlah tugasmu.” lzrail pun mulai melakukan tugasnya. Ruh sang Nabi Agung itu dicabutnya pelan-pelan, lembut sekali. Ketika ruhnya sampai di pusat, Rasulullah berkata: “Wahai Jibril, sakiiit … sekali kematian ini.” Karena tak sanggup melihat wajah kekasih Allah itu merintih kesakitan, Jibril mengalihkan pandangannya.

Melihat itu, Rasulullah bertanya: “Wahai Jibril, apakah engkau tidak suka melihat wajahku?” Jibril menjawab: “Wahai kekasih Allah, siapa yang akan sanggup melihat wajahmu dalam keadaan sakaratul maut begini?”Anas bin Malik ra. berkata: “Ketika ruh Rasulullah s.a.w. telah sampai di dada, beliau bersabda, ‘Aku wasiatkan kepadamu mengerjakan shalat dan kerjakan semua yang Allah perintahkan kepadamu.”

Ali r.a. berkata: “Sesungguhnya, ketika menjelang saat-saat terakhir, Rasulullah mengerakkan kedua bibirnya sebanyak dua kali, dan aku meletakkan telingaku dekat dengannya, Rasulullah s.a.w. berkata: “Umatku..’ umatku….” Telah bersabda Rasulullah s.a.w. bahwa:“Malaikat Jibril a.s. telah berkata kepadaku.”Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah s.w.t. telah menciptakan sebuah laut di belakang gunung Qaf, dan di laut itu terdapat ikan yang selalu membaca shalawat untukmu, barang siapa yang menangkap ikan dari laut tersebut maka akan lumpuhlah kedua belah tangannya dan ikan tersebut akan menjadi batu.”

Waallahualam Bishawab..


Lihat kisah yang terkait dengan kisah diatas DISINI anda akan dialihkan atau kembali ke beranda untuk membaca kisah-kisah Islami menarik lainnya.

Oleh : Aby al-Ghifari (Amalan Penghuni Surga Facebook Fanspage)



Saturday, August 16, 2014

Kisah Pohon Kurma Menangis



Mau Dapat Uang 3jt/bln pasang link refferal kami di FB, Twitter, Blog, Website, dll gratis biaya pendaftaran NOW SCAM! buktikan sendiri DAFTAR SEKARANG



Pada suatu Jumat, warga Madinah digemparkan dengan suara tangis yang amat pilu dan tak ujung henti. Suara yang seperti rengekan bayi itu berasal dari Masjid Nabawi. Para sahabat Rasul yang berada di masjid pun kebingungan, siapa gerangan yang menangis. Saat itu, mereka tengah berkumpul untuk menjalankan shalat Jumat.


Tangisan terdengar sesaat ketika Rasulullah memberikan khutbah. Mendengarnya, Rasulullah pun turun dari mimbar menunda khutbahnya. Sang Nabiyullah kemudian mendekati sebuah pohon kurma. Beliau mengelusnya, kemudian memeluknya. Maka, berhentilah suara tangisan itu. Ternyata, si pohon kurma itulah yang menangis. Hampir saja pohon itu terbelah karena jerit tangisnya.
Sejak Masjid Nabawi berdiri, pohon kurma itu telah di sana. Tak hanya menjadi tonggak, pohon kurma tersebut selalu menjadi sandaran Nabi acapkali beliau memberikan khutbah. Si pohon selalu menanti hari Jumat karena pada hari itu ia akan mendampingi Nabi memberikan nasihat kepada kaum Muslimin. Sejak Jumat pertama masjid berdiri, ia selalu setia dan bahagia menemani Nabi Muhammad. Hingga hari Jumat itulah ia menangis.


Beberapa hari sebelum Jumat yang pilu bagi si pohon, seorang wanita tua Anshar mendatangi Rasulullah. Ia memiliki putra seorang tukang kayu dan ia menawarkan sebuah mimbar untuk Rasul. “Wahai Rasulullah, maukah kami buatkan mimbar untuk Anda?” ujarnya. Rasulullah pun menjawab, “Silakan jika kalian ingin melakukannya,” ujar beliau.


Maka, pada Jumat keesokan hari, mimbar Rasul telah siap digunakan. Mimbar itu pun diletakkan di dalam masjid. Saat Rasul menaiki mimbar, menangislah si pohon karena ia tak lagi menjadi “teman” Rasul dalam khutbah Jumat seperti biasa. “Pohon ini menangis karena tak lagi mendengar nasihat yang biasa disampaikan di sampingnya,” ujar Rasul setelah memeluk pohon tersebut.
Setelah dipeluk Nabiyullah, si pohon bahagia. Ia tak lagi menangis dan dirundung kesedihan. Meski tak lagi mendampingi Nabi, mendapat pelukan dari Nabi cukup mengobati rasa sedihnya. Rasulullah pun berkata kepada para sahabat, “Kalau tidak aku peluk dia, sungguh dia akan terus menangis hingga hari kiamat,” sabda Nabi.


Kisah pohon kurma yang menangis ini sangat populer dalam kisah Islami. Banyak rawi yang meriwayatkan hadis tersebut, sehingga tak perlu lagi dipertanyakan kesahihannya. Para sahabat banyak meriwayatkannya, baik Ibnu Abbas, Anas bin Malik, Jabir, Ibnu Umar, dan lain sebagainya. Kisah ini menunjukkan betapa seluruh makhluk, bahkan pohon sekalipun, mencintai Rasulullah. Maka, sangat mengherankan jika manusia yang berakal dan mengetahui keluhuran akhlah beliau kemudian tak jatuh cinta kepada sang Nabi.



Alfaro: Bingung Bahwa Tuhan Kirim Anaknya ke Bumi untuk Dibunuh agar Bebaskan Dosa Manusia


Vicente Mota Alfaro menjadi mualaf pertama asli Spanyol yang memegang jawatan imam di masjid Islamic Cultural Center of Valencia (CCIV) dan memimpin salat berjamaah di masjid itu. Selain imam masjid, Alfaro juga menjadi anggota Dewan Direktur CCIV sejak tahun 2005.

Posisi imam masjid mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Alfaro, karena tiga belas tahun yang lalu ia adalah penganut agama Katolik yang taat, rajin membaca alkitab setiap hari dan tidak pernah mangkir menghadiri perjumpaan mingguan di gerejanya.

Ketika ditanya tentang perubahan hatinya dan perjalanannya dari seorang penganut Katolik yang taat menjadi seorang Muslim, Alfaro memberikan jawaban sederhana,”Ini semua adalah kehendak Allah, Islam menjadi pilihan saya dan menjadi hidup saya.”

Alfaro memutuskan masuk Islam pada saat ia berusia 20 tahun dan masih menjadi siswa sekolah menengah. “Saya membaca kitab suci al-Quran. Saya menemukan kebenaran tentang kisah Yesus Kristus dan kemudian saya masuk Islam,” Alfaro menceritakan perjalanannya menemukan cahaya Islam.

Pada dasarnya, Alfaro memang dikenal sebagai seorang yang kuat beragama. Sejak masa kanak-kanak, Alfaro sudah rajin ke gereja setiap minggu dan membaca alkitab dengan teratur. “Saya melakukannya, sementara anak-anak lain pada saat itu tidak punya minat pada agama. Ketika itu, saya tentu saja belum tahu tentang Islam,” ujarnya.

Alfaro mengenal Islam dari tetangganya, seorang Muslim asal Aljazair yang sering ia ajak berbincang-bincang. “Suatu saat kami sedang berbual dan dia bilang bahwa semua umat manusia adalah keturunan Adam dan Hawa dan kita semua adalah anak-anak dari Nabi Ibrahim,” kenang Alfaro tentang tetangganya.

“Kala itu, saya tercengang mendengar Muslim dan orang-orang Arab tahu tentang Adam, Hawa dan Ibrahim,” sambung Alfaro.

Perbincangan itu memotivasi Alfaro untuk menggali lebih jauh tentang Islam. Ia jadi sering berkunjung ke perpustakaan dan meminjam terjemahan al-Quran. Terjemahan al-Quran itu ia baca dengan seksama di rumah.

“Saya sudah sering membaca di Gospel bahwa Yesus adalah anak Tuhan dan Tuhan mengirim anaknya ke bumi untuk dibunuh dan disiksa guna membebaskan dosa-dosa manusia. Saya selalu bermasalah dengan hal itu, terutama untuk mempercayai cerita itu,” kata Alfaro.

Dan jawapan yang ia cari, ditemukannya dalam al-Quran. “Saya pelajari dari al-Quran bahwa Yesus tidak dibunuh atau disalib,” ujar Alfaro.

Kisah Yesus dalam kitab suci al-Quran menyentuh hati Alfaro yang sejak mengucap dua kalimat syahadat mengubah namanya menjadi Mansour. “Saya langsung meyakini bahwa al-Quran adalah kitab suci yang benar yang berasal dari Tuhan. Dan saya langsung memutuskan ingin menjadi seorang Muslim,” tukas Alfaro.

Begitulah perjalanan Alfaro atau Mansour menemukan kebenaran dalam Islam. Sampai akhirnya para pemuka komunitas Muslim di kota Valencia sepakat memilihnya menjadi imam masjid Valencia. Alfaro dipilih karena dianggap memiliki kemampuan dan memenuhi syarat-syarat untuk menjadi imam masjid.

“Dia dipilih karena pengetahuannya yang luas tentang agama,” kata El-Taher Edda, sekretaris jenderal Islamic League for Dialogue and Coexistence.

Edda juga menegaskan bahwa penunjukkan Alfaro sebagai imam masjid Valencia merupakan pesan yang jelas tentang integrasi para mualaf ke dalam masyarakat Muslim.

Jumlah mualaf di Sepanyol terus meningkat beberapa tahun belakangan ini. Menurut laporan media massa lokal, warga Spanyol yang masuk Islam bahkan dari kalangan intelektual, akademisi dan aktivis anti-globalisasi. Saat ini, jumlah warga Muslim di Spanyol diperkirakan sekitar 1.5 juta orang dari 40 juta total penduduk negara itu. Di Sepanyol, berdasarkan undang-undang kebebasan beragama tahun 1967, Islam diakui sebagai agama resmi dan menjadi agama kedua terbesar setelah agama Kristian. (hz)


www.eramuslim.com



Lihat kisah yang terkait dengan kisah diatas DISINI anda akan dialihkan atau kembali ke beranda untuk membaca kisah-kisah Islami menarik lainnya.


Mau Dapat Uang 3jt/bln pasang link refferal kami di FB, Twitter, Blog, Website, dll gratis biaya pendaftaran NOW SCAM! buktikan sendiri DAFTAR SEKARANG

Tuesday, August 12, 2014

Kisah Imam Zahid ; Setiap Ada Orang Pasti Ada Rezeki Dari Allah SWT






Imam Zahid adalah seorang hamba yang dikenal shalih dan takwa. Pada suatu hari setelah beliau membaca Al-quran, Imam Zahid termenung. Pikirannya tertuju pada ayat 75-79 surat al An-am yang berkisah tentang usaha Nabi Ibrahin untuk mencapai keyakinan terhadap ketuhanan Allah Swt. Saat ituy, ia merasakan ada sesuatu yang mengganjal bathinnya. Selama ini, ia tahu Allah Swt. adalah Tuhan Yang Maha Pengasih dan selalu memberikan rezeki kepada siapapun dan dimanapun, baik bagi orang yang beriman ataupun kafir. Selama makhluk itu hidup, rahmat dan karunia-Nya akan tetap mengalir.

Bagi Imam Zahid, pandangan pengetahuan tersebut baru sebatas percaya. Ia belum yakin sepenuhnya terhadap pandangan tersebut. Bermula dari kisah Nabi Ibrahim as. ia ingin mencari keyakinan sekaligus ingin membuktikan bahwa Allah Swt. benar-benar membagikan rezeki dimana pun makhluk itu bertempat tinggal.

Selanjutnya, Imam Zahid mencari tempat yang jauh dari keramaian manusia. Dan, tempat yang dipilihnya adalah gunung. Sesampainya ditempat tujuan, Imam Zahid duduk dimulut gua. Tempat itu persis dengan apa yang ia inginkan, yaitu tempat yang benar-benar sepi dan tampaknya tidak satupun manusia yang berada ditempat itu sebelumnya.

Beberapa hari kemudian dugaan Imam Zahid meleset, karena dari kejauhan terlihat nampak serombongan kafilah dagang yang melintas ditempat itu dan mendekati tempatnya berada. Rombongan kafilah itu sedang tersesat hingga sampai ketempat beliau mengasingkan diri. Mereka merupakan kelompok pedagang yang berkeliling mengarungi padang pasir dengan mengendarai unta. Mereka berdagang dari kota satu ke kota yang lainnya.

Terdengar teriakan pemimpin kafilah itu agar semuanya berhenti sebentar di depan gua. Sepertinya pemimpin kafilah itu mengetahui
keberadaan Imam Zahid yang duduk diam di depan gua.

"Wahai tuan, tolong tunjukkan kepada kami jalan ke kota terdekat agar kafilah kami tidak tersesat," kata pemimpin kafilah itu kepada Imam Zahid,

"Sudah berhari-hari kami berada dikawasan ini dan belum juga menemukan jalan untuk ke kota."

Imam Zahid diam tidak menjawab. Pandangannya tidak beralih sedikitpun ke pemimpin kafilah. Pandanagannya tetap ke depan, tak menghiraukan keberdaan siapapun disekelilingnya. Sekali lagi pemimpin kafilah itu mengulangi pertanyaannya. Akan tetapi, Imam Zahid tak bergeming. Ia tak menjawab, walaupuin berulang kalinya.

"Sepertinya orang ini sangat kelaparean, sampai-sampai ia tidak kuat untuk berbicara. Beri ia makan dan minuman," perintah pemimpin kafilah kepada anak buahnya.

Seorang pekerja kafilah itu meletekkan makanan dan minuman di depan Imam Zahid, dan berkata, "Makanlah tuan."

Imam zahid tetap diam dan tidak bereaksi, meskipun orang itu mengulangi perkataannya. Orang itu mendekatkan makanan ke wajah Imam Zahid.

"Mungkin badannya sangat lemah karena menahan lapar yang luar biasa, sampai tidak bisa menggunakan tangannya. Mungkin suapkan saja ke mulutnya, barangkali ia baru mau memakannya," usul pemimpin kafilah.

Orang itu melaksanakan semua yang dikatakan pemimpin kafilah. Namun, mulut Imam Zahid tetap terkunci, tak mau membukanya.

"Buka paksa saja mulutnya, ia mungkin sangat lemah untuk membuka mulutnya sendiri," kata pemimpin kafilah itu.

Orang itu mencoba untuk membuka mulut Imam Zahid, tetapi mulut itu tetap tak mau membuka untuk mengunyah makanan.

"Allahu akbar, pakailah pisau untuk membuka mulutnya!" Perintah pemimpin kafilah.

Ketika salah seorang kafilah membuka bungkusan untuk mengambil pisau, secara tiba-tiba Imam Zahid tertawa keras. Orang-orang yang ada ditempat itu terkejut bukan main.

"Ternyata, kamu tidak lemah atau kelaparan, tidak seperti yang kami sangka," kata pemimpin kafilah.

"Tidak tuan-tuan," kata Imam zahid, "Aku tidak kelaparan, sebagaimana yang kalian perkirakan. Sebelumnya aku mohon maaf bila merepotkan kalian semua. Ketahuilah tujuanku berda disini dan seperti tak nmenghiraukankeberadaan kalian hanyalah untuk mencari tahu dan meyakinkan diri tentang cara Allah SWt. memberikan rezeki kepada segenap makhluk-Nya. Ternyata ditempat terpencil dan dunyi inipun Allah swt. tetap memperhatikanku dan mengirimkan rezeki-Nya melalui perantaraan kalian. Karena itu dimanapun kita berada pasti diberikan rezeki oleh allah Swt; Tuhan tidak akan pernah menelantarkan makhluk-Nya."

Pemimpin dan anggota kafilah dapat memahaminya. Imam zahid dan rombongan kafilah pedagang itupun makan bersama-sama. sesudah menyantap makanan, ia dan rombongan kafilah yang tersesat itu pergi menuju ke kota. Kini Imam Zahid telah yakin dan semakin bertambah keimanan dan ketakwaannya kepada Allah Swt.


ULASAN ADMIN

Dari kisah yang baru saja kita baca diatas dapatlah kita memberikan kesimpulan ringkas bagaimana cara Allah swt memberikan rezeki kepada segenap makhluk. Bahwasannya kita sebagai orang yang beriman dan mempercayai bahwa rezeki itu datangnya dari allah swt. dan bahwasannya dia yang mengurus, memelihara dan memberi rezeki sebagai salah satu rahasia Allah kepada hamba-Nya.

Tidaklah perlu kita menjadi khawatir atas kondisi kita sekarang ini yang jika Anda merasa sempitnya rezeki yang dirasakan. Coba kita renungkan apa yang menjadi masalah sehingga terjadi demikian. Mungkin saja kita telah melupakan Allah swt. atau kita kurang bersyukur atas rezeki yang kita dapatkan serta mungkin saja kita tidak memahami kehendak Allah Swt. sehingga kita berbuat atau meminta berdasarkan keinginan (hawa nafsu) bukan meminta kepada Allah Swt. berdasarkan kebutuhan kita yang mungkin saja permintaan berdasarkan keinginan itu telah melampaui batas dari kebutuhan kita yan g sebenarnya telah diatur oleh Allah Swt. Karena sesungguhnya rezeki itu telah diatur oleh Yang Maha Rahim, yaitu Allah swt. dan rezeki itu merupakan rahasia Allah swt. yang siapapun tak dapat membuka tabir rahasia itu. Selagi manusia itu tak dapat memahami dan mempelajari tentang rahasia rezeki.

Demikianlah semoga ulasan dan kisah Imam zahid yang telah membuktikan dan tiada kekhawatiran dalam dirinya atas rahmat dan karunia Allah Swt. sehingga beliau dapat meyakini sepenuhnya bahwa Allah Swt adalah Tuhan yang telah memberikan rezeki kepada setiap makhluk berdasarkan kebutuhan bukan berdasarkan keinginan hawa nafsu.

Semoga bermanfaat.

Kisah Nabi Zakaria Alaihisalam


"Inilah satu peringatan rahmat Tuhanmu kepada hambaNya yaitu Zakaria. Dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang sayup-sayup sampai. Berkatalah dia : Wahai Tuhanku...! Sesungguhnya tulangku sudah lemah dan kepalaku sudah penuh beruban, sedangkan permintaanku kepada Engkau belum pernah tiada terkabul. Sesungguhnya saya takut, siapakah orang yang menggantikan sepeningga saya nanti, sedangkan istriku orang yang mandul. Sebab itu berilah saya anak yang Engkau Ridhoi. Yang akan menerima pusakaku dan pusaka keluarga Ya'qub. Jadikanlah anak itu..., wahai Tuhanku...! anak yang Engakau sukai. (QS. Maryam : 2-6)"


Nabi Zakaria a.s adalah keturunan Nabi Sulaiman a.s dan beliau adalah seorang ulama besar dikalangan Bani Israil. Nabi Zakaria yang telah lanjut usia tetapi belum juga mendapatkan seorang anakpun. Tadinya tidak sedikit terlintas dalam pikirannya, tetapi setelah beliau memelihara Maryam ibunda nabi Isa a.s barulah terlintas dalam angan-angannya akan kerinduan hadirnya seorang anak. Nabi Zakaria khawatir jika dia telah meninggal siapa yang akan meneruskan dakwah kepada kaum Bani Israil dan meneruskan keturunan dari Nabi Ya'qub a.s.

Tiada mengenal lelah atau berputus asa barang sedikitpun dalam hati Nabi Zakaria terus berdoa meminta kepada Allah Swt. seorang anak walaupun belum dikabulkan.

Allah Swt. adalah Tuhan Yang Maha Tahu dan senantiasa mendengar akan doa hambaNya itu telah mengabulkan permintaan Nabi Zakaria a.s dan tak lama kemudian beliau mendapat kabar gembira dari Allah SWT. akan lahir seorang anak laki-laki dari rahim istrinya yang kemudian diberi nama Yahya yang berarti "Hidup" oleh Allah Swt.

Hal ini diterangkan Allah SWt. dalam Al-quran surah Maryam ayat 7-9

Hai Zakaria...! Sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak namanya "Yahya" yang belum pernah Kami memberi nama itu kepada siapapun juga. Berkata Zakaria : Wahai Tuhanku...., bagaimana saya akan memperoleh anak, sedangkan istriku seoarang yang mandul, dan saya sendiri sangat tua...? Allah berfirman : Demikianlah halnya. Firman Allah : Perkara itu mudah sekali bagiKu, sesungguhnya engkau telah Aku jadikan sejak dahulu, sedang engkau belum ada apa-apa.


Kabar gembira itu disampaikan oleh Malaikat Jibril yang saat itu Nabi Zakaria sedang sembahyang di mihrabnya. Tiada lama setelah itu, maka kabar itu kemudian menjadi nyata bahwa istri Nabi Zakaria benar-benar telah hamil dan ketika sudah sampai pada batas waktu untuk melahirkan, lahirlah seorang bayi laki-lakidan kemudian diberi nama "Yahya". Setelah dewasa Yahya akan membenarkan kalimat dari Allah, menjadi panutan banyak orang, menjadi orang yang dapat menahan diri, serta termasuk seorang Nabi dan Rasul dari golongan orang yang baik-baik.


Saturday, August 9, 2014

Kisah Tiga Doa Yang Terkabul



Pada suatu hari Saham bin Munjab merasa beruntung karena berada satu pasukan dengan Alla' bin Hadhrami. Saham sangat penasaran dengan Alla' karena banyak orang yang mengatakan bahwa Alla' adalah pembawa keberuntungan. Setiap peperangan yang diikuti Alla' pasti dimenangkan. Selain itu Alla' juga sangat dikenal sebagai orang yang doanya selalu terkabul.

Dalam perjalanan misi militer tersebut, tanpa sengaja Saham bin Munjab mendengar doa yang dipanjatkan oleh Alla' setelah shalat berjamaah. Adapun doa yang dipanjatkan oleh Alla' adalah,


"Ya Allah, Tuhanku Yang Maha Tinggi dan Maha Agung, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu dan dijalan-Mu untuk memerangi musuh-musuh-Mu. Maka, limpahkanlah kepada kami air untuk diminum, untuk berwudhu, dan bersuci dari kotoran atau hadats. Bilamana kami meninggalkan tempat ini, maka janganlah Engkau jadikan nasib seperti ini kepada siapapun selain kami."


Setelah beberapa waktu, rombongan pasukan muslimin menemukan air sungai yang mengalir deras. Lalu, pasukan mereka mengambil air untuk keperluan pribadi dan bekal dalam perjalanan.

Saham sengaja meninggalkan tempat minumnya. Tujuannya adalah ingin menguji doa Alla', apakah dikabulkan Allah Swt. atau tidak?

Kira-kira setelah satu mil perjalanan dari sungai tersebut, saham minta izin kepada komandan pasukan untuk mengambil tempat air minumnya yang ketinggalan disungai tadi. Setelah diperbolehkan, ia kembali ketempat tersebut. Saham bin Munjab dapat menemukan tempat air minumnya, tetapi sungainya telah berubah, karena beberapa waktu yang lalu ia melihat air sungai yang berlimpah, dan kini kering sudah tidak ada lagi air sungai tersebut.

Setelah melakukan perjalanan panjang dan melelahkan, rombongan pasukan Saham dan Alla' sampai ke medan perang. Namun, ada yang menahangerak laju pasukan, yakni lautan yang memisahkan antara mereka dan musuh. Dalam keadaan seperti itu Alla' memanjatkan doa,


"Ya Allah, Tuhan Yang MAha Mengetahui dan Maha Agung, sesungguhnya aku adalah hamba-MU, dan di jalan-Mu kami memerangi musuh-Mu. Maka, berilah kami jalan untuk menuju musuh-Mu."


Setelah berdoa Alla' mengajak pasukannya untuk menyeberangi lautan itu. Dan menakjubkan, pelana kuda yang dikendarai tidak basah sama sekali hingga dapat menyeberangi lautan dan sampat ketempat musuh.

Setelah mendapatkan kemenangan berperang, pasukan Muslimin pun pulang. Dalam perjalan pulang tersebut Alla' jatuh sakit dan meninggal dunia. Karena tidak ada air, Alla' dikuburkan dengan pakaian yang dikenakan dan tanpa dimandikan. Setelah itu rombongan pasukan melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian mereka menemukan sumber mata air. Diantara rombongan ada ada yang mengajak kembali ke makam Alla' dengan tujuan mengambil jenazahnya untuk dimandikan dan lalu dikuburkan lagi.

Ketika mereka menggali kuburan Alla' bin Hadhrami, jenazahnya tidak ditemukan, padahal baru beberapa jam mereka menguburnya dan disana tidak tampak ada bekas galian orang atau binatang buas misalnya. Salah seorang dari anggota pasukan Muslimin ada yang pernah mendengar Alla' berdoa kepada Allah Swt,

"Ya Allah, Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Maha Agung, sembunyikanlah jenazahku jangan Engaku biarkan seorangpun melihat auratku."


SEtelah mendengar penuturan tersebut, maka pasukan Muslimin sepakat untuk meninggalkan tempat itu dan melanjutkan perjalanan untuk pulang. Saham bin Munjab kemudian sangat yakin bahwa Alla' bin Hadhrami adala orang yang bertakwa, sehingga doanya selalu dikabulkan Allah Swt. Hal itu terbukti dengan Tiga Doanya. tersebut. Yuk Sahabat Muslim kita ucapkanSubhanallah...


Alhamdulillah. Terima kasih sudah membaca kisah Tiga Doa Yang Terkabul semoga bermanfaat untuk kita semua. Wassalam

1001 Kisah Islami - Kisah Paling Menggugah 1001 Keajaiban Ketakwaan

















Friday, August 8, 2014

Kisah Wanita Tunasusila Menjadi Ahli Surga




Mau Dapat Uang 3jt/bln pasang link refferal kami di FB, Twitter, Blog, Website, dll gratis biaya pendaftaran NOW SCAM! buktikan sendiri DAFTAR SEKARANG


Pada suatu negeri, hiduplah seorang wanita bernama Al-Malikah. Dia adalah wanita tuna susila nan cantik yang berasal dari keturunan Bani Israil. Dia dikenal sebagai wanita tunasusila kelas atas dengan harganya yang cukup tinggi.

Cantiknya, tak bisa dibayangkan oleh seorang pemuda yang bernama Abid. Abid ini adalah seorang pemuda miskin yang taat beribadah. Namun karena kepopileran paras ayu Al-Malikah, rupanya telah menggoda keimanan sang pemuda untuk menikmati kecantikan Al-Malikah.

Sayangnya, untuk bisa bertemu dengan Al-Malikah, Abid harus mengeluarkan biaya sebesar 100 dinar. Karena begitu besarnya harga itu, Abid harus bekerja sekuat tenaga mengumpulkan uang agar bisa bertemu dengan pujaan hatinya itu.

Pertemuan Dengan Wanita Tunasusila.
Di luar dugaan, sesuatu yang mengejutkan terjadi, karena setelah Abid berada di hadapan Al-Malikah, tiba-tiba saja rubuhnya bergetar hebat, keringat bercucuran dari sekujur tubuhnya. Abid ingin segera lari dari hadapan Al-Malikah, hingga Al-Malikah pun dibuat terkejut dengan tingkah laku Abid.

Ketika Al-Malikah sudah berada di depan Abid, Abid justru teringan dengan Tuhan-Nya.
"Aku takut kepada Allah SWT, bagaimana aku mempertanggungjawabkan perbuatan maksiatku nanti," kata Abid.

Ucapan spontan dari Abid ini malah membuat Al-Malikah sangat terkejut. Entah bagaimana ucapan Abid seakan menjadi wasilah yang mampu memberikan kesadaran pada Al-Malikah. Di luar dugaan, hati Al-Malikah tersentuh oleh ucapan Abid yang polos tersebut.

Meninggal.
Tidak berapa lama kemudian Abid langsung lari dari hadapan Al-Malikah.
Al-Malikah pun kaget, dan mengejar Abid sampai tergopoh-gopoh. Akhirnya berhasil juga Al-Malikah mengejar Abid. Al-Malikah memohon agar Abid mau menjadikannya istri. Sambil menangis dan memohong berulangkali, Al-Malikah minta dijadikan istri oleh Abid. Abid kebingungan dibuatnya.
Al Malikah tidak akan melepaskan tangannya sebelum Abid berjanji untuk menikahinya.

Namun apa yang terjadi, Abid berhasil melepaskan cengkeraman tangan Al-Malikah dan langsung kabur dengan cepat hingga hilang dari pandangan.Keteguhan keimanan sang pemuda rupanya telah menawan hati Al-malikah. Kata-kata iman yang keluar dari mulut Abid telah benar-benar membuka hati, mata dan piikiran Al-malikah.

Usia pertemuan itu, Al-malikah berjanji untuk memperbaiki diri sendiri dan segera keluar dari lembah hitam. Dia terus mencari Abid hingga ke pelosok-pelosok, namun yang dicarinya selalu tidak membuahkan hasil.

Di suatu tempat, Abid begitu ketakutan yang sangat luar biasa. Karena ketakutannya kepada Allah SWT, maka Abid pun pingsan hingga membuatnya meninggal dunia. Kabar meninggalnya Abid telah terdengar ke telinga Al-Malikah.
Tentu saja berita itu membuatnya bersedih dan syok hingga terjatuh dan akhirnya meninggal dunia saat itu juga.


[KISAH TELADAN ISLAMI- 1001 KISAH ISLAMI]